Nuansa Masjid UGM

Masjid Ugm, ngangsukawruh.com


Pagi menjelang siang, kami berangkat menuju Masjid Kampus UGM dengan agak ngebut. Suasana jalanan yang macet dan cukup panas menyebabkan rasa sumpek yang khas. Masuk masjid, kami disambut oleh satpam yang menjaga parkiran masjid disertai dengan karcis sebagai bukti kepemilikan kendaraan bermotor. Ada dua pintu masuk, dari dalam kampus dan dari luar kampus. Tempat parkir juga cukup luas hingga banyak mobil bisa ikut masuk. Ada juga tower di sebelahnya yang dapat dinaiki oleh pengunjung masjid dengan tangga yang cukup tinggi. Masjid yang memiliki halaman yang luas, taman yang indah untuk tempat foto dan tumbuhan yang banyak itu semakin menambah rasa penasaran akan kenyamanan di dalamnya.
Di masjid tersebut terdapat kotak infaq yang dijaga resmi oleh pengurus masjid. Terdapat juga TV, jam klasik dan bedug yang tidak nampak terpakai. Jam yang dipakai berupa jam digital dengan waktu sholat yang otomatis. Ada buletin Jumat yang dibuat oleh berbagai latar belakang ormas. Ada pengemis dan penjual di sekitar masjid yang memanfaatkan keramaian masjid untuk mengais rezeki. Terdapat tempat wudlu di luar tetapi tidak ditemukan tempat penitipan tas sebagaimana di Masjid UIN. Masjidnya sendiri juga cukup luas, terbuka dan adem, meskipun pembatas antara masjid dan serambinya kurang jelas.
Para jamaah semuanya laki-laki, jamaah perempuan nampaknya ada tempat sendiri di lantai dua. Mayoritas jamah bercelana, jarang yang bersarung, mungkin ini disebabkan mayoritas dari mereka bukan warga sekitar melainkan civitas akademik di kampus. Ada yang memakai celana cingkrang juga, jidatnya hitam dan memakai baju koko lengan pendek. Banyak dari jamaah yang membawa tas juga. Tetapi mayoritas tetap orang yang memakai celana biasa dengan baju lengan pendek baik batik maupun tidak dan tidak berpeci. Shaf depan terisi penuh terlebih dahulu dengan diiringi bacaan al-Qur’an yang menggema di masjid oleh para jamaah yang membacanya cukup keras. Al-Qur’an yang dibaca disediakan oleh masjid, meskipun ada di antara mereka yang membawanya sendiri. Selain, pembaca al-Qur’an, terdapat juga orang-orang yang ngobrol dengan asyiknya dengan teman-temannya. Ada yang tidur-tiduran sambil menunggu adzan. Ada yang mainan HP sendiri-sendiri. Dan ada yang duduk santai sendiri melihat pemandangan di sekitar masjid. Meskipun begitu, masjid ini sudah ramai sebelum adzan berkumandang.
Ketika Sholat Jumat segera dimulai, takmir masjid mengumumkan adanya pengajian pada shubuh dan sore hari yang salah satunya bakal diisi oleh Sugi Nur, tokoh yang kontroversial karena menghina NU dan Banser. Diumumkan juga khatib yang akan mengisi Sholat Jumat ini yakni Dr. Tulus Musthofa, dosen UIN Sunan Kalijaga. Dan kiprah takmir masjid yang nampak adalah dalam hal pengumuman ini.
Akhirnya adzan dikumandangkan. Sebagaimana dugaan, bedug tidak dipukul dan mungkin hanya sebagai hiasan aja. Setelah adzan, khatib langsung memulai khutbahnya. Di masjid ini adzan Cuma sekali dan tidak ada bilal yang membacakan bacaan-bacaan khas di masjid kampung-kampung yang khas NU. Kotak amal digulirkan ketika khutbah berlangsung dan para jamaah juga ada yang mengisinya dan ada yang menggesernya saja. Khatib tidak berapi-api dalam memaparkan materi khutbahnya. Tidak ada penerjemah bagi tuna rungu ketika khutbah. Khatib enak dalam menyampaikannya meskipun membawa susasana ngantuk yang tak tertahankan hingga saya ketiduran.
Sholat dimulai. Bacaan imam ketika sholat juga enak didengar walaupun cukup lama. Dikarenakan surat yang dibaca adalah surat al-Thalaq di rakaat pertama dan surat al-A’la di rakaat kedua. Dan imam membaca basmalah dalam surat al-Fatihah secara jahr. Bagi saya, ini pertama kalinya mendengar imam membaca dua ayat tersebut secara beriringan dalam Sholat Jumat. Setelah salam, tidak ada bacaan dzikir sebagaimana khas warga NU. Jamaah berdzikir sendiri-sendiri secara sirr. Tidak banyak yang mengajak bersalaman setelah sholat, mungkin karena ada yang menganggapmya nggak bagus juga. Jamaah tidak langsung bubar setelah jamaah. Banyak dari jamaah yang melaksanakan Sholat Ba’diyah Jumat beberapa saat setelah berdzikir sendiri-sendiri. Setelah itu ada yang melanjutkan membaca al-Qur’an, langsung pulang, ngobrol-ngobrol, tidur-tiduran dan bermain HP setelahnya di shaf belakang masjid agak ke pingir. Lantai dua masjid langsung sepi, tidak seperti di lantai satu yang masih ramai.
Hal lain yang dapat dikomentari di masjid ini tidak adanya fasilitas makan dan minum bagi jamaah selesai sholat. Tidak ada makam di belakang masjid juga. Selain itu yang terpenting bagi saya adalah tidak dirasakannya kesakralan masjid sebagaimana di masjid desa atau pondok pesantren.


Baca Juga: Dilema Barcelona

0 Response to "Nuansa Masjid UGM"