Contoh Proposal Sejarah Lisan


Sejarah Lisan, Oral History
Ayah, merupakan sosok yang tak pernah lepas dari kehidupan kita, kehadirannya. selalu menjadinya panutan dalam segala tindakan, dan mungkin merupakan sosok pahlawan yang justru tak disadari. Ayah selalu mempunyai sisi menarik dari setiap cerita yang di utarakan selalu meninggalkan kesan, betapa hebatnya ayahku,, meskipun waktu yang kami habiskan bersama tak pernah berlangsung lama namun justru itu yang membuatku lebih menghormatinya, dengan caranya sendiri beliau menunjukkan sebuah bentuk kasih sayang  dari seorang ayah untuk anaknya dan buah hatinya, sekalipun lelah letih tubuh telah menjalar namun, beliau tak pernah melupakan tanggung jawabnya sebagai imam dalam keluarga, untuk mendidik dan selalu mengajari anaknya menjadi pribadi yang lebih baik. Bukan hanya mencukupi secara materi namun kebutuhan rohani pun selalu mendapat perhatian khusus dari ayahku
Ayahku, bernama Nurkholis seorang pemuda dari keluarga sederhana, anak dari pasangan Jayus dan kalinem. Lahir 55 tahun yang lalu, tepatnya 5 Oktober 1963 di Blitar, tepatnya beberpa tahun sebelum meletusnya pemberontakan PKI, yang mana Blitar termasuk menjadi wilayah pelarian anggota PKI dari wilayah Madiun. Ayahku merupakan anak pertama, dari enam bersaudara, tetapi  3 saudarinya meninggal saat waktu masih kecil,[1]
Nurkholis kecil tumbuh dengan didikan sederhana dari kedua orang tuanya, sekalipun bukan  dari kalangan berada namun kedua orang tuanya, mempunyai niat dan motivasi yang kuat agar anaknya dapat mengenyam pendidikan sampai dengan sarjana dan menjadi seorang guru. Perjuangan untuk merasakan pendidikan pun ia alami, bagaimana harus berjalan kaki belasan kilometer mengikuti jalur kereta api saat di jenjang menengah, karena pada waktu itu, sepedah merupakan suatu hal yang mewah dan tak setiap masyarakat memilikinya. Hingga akhirnya nanti ia berhasil membuat jalannya untuk menjadi seorang guru setelah lulus dari SMP dan melanjutkan studinya di SPG (Sekolah Pendidikan Guru) di kota Blitar dan setamatnya dari sana merantau dan menjadi guru di pedalaman Irian Jaya (Papua) pada tahun 1985
Selain pendidikan formal, kedua orang tua ayah juga memperhatikan masalah agama, dan menganggapnya itu adalah bekal penting dalam hidup, dengan harapan sebagaimana orang tua pada umumnya, yakni ingin anaknya menjadi seorang anak yang sholih dan mampu berbakti kepada orangtua. Menurut cerita dari keluarga walaupun bukan seseorang yang menjalankan agama dengan taat, tapi kesadaran akan hal itu sangat mendalam, sehingga di usia belia ayah di titipkan ke tempat saudara dari nenek, untuk belajar mengaji dan agama secara mendalam dan sering menginap di mushola tempatnya mengaji. Jadi antara pendidikan  formal dan agama, dapat dikatakan pada waktu tersebut, ayah merupakan sosok anak yang beruntung karena mendapat kedua hal tersebut secara bersamaan dari keluarganya.
Kisah cinta dari ayah pun terlihat menarik, berbeda dengan pemuda pada umumnya, ayah tergolong pemuda yang pendiam terhadap lawan jenis, dan dikenal oleh para orang tua sebagai sosok pemuda yg baik, bahkan tak sedikit yang mencoba menjodohkan ayah dengan anak-anak gadis mereka, karena berharap ayah menjadi menantunya, namun saat itu ayah memamng belum menunjukkan ketertarikannya terhadap lawan jenis dan fokus untuk mengejar karirnya menjadi seorang guru, dan dikemudian hari salah satu muridnya itulah yg menjadi istrinya dan ia adalah ibuku, “sosok wanita sederhana yang setia mengikuti jalan suaminya kemanapun ia pergi, bahkan hingga daearh pedalaman Papua”.[2]
Berangkat dari beberapa fakta inilah, penulis merasa tertarik untuk bisa  mengkaji lebih tentang sosok ayah penulis, karena sampai saat ini penulis masih belum banyak mengetahui lika-liku perjuangan beliau semasa mudanya ketika mengabdi menjadi seorang guru, seorang suami dan juga orang tua, yang tinggal dari daerah pedalaman hutan Paniai sampai daerah perkotaan Smoker di papua barat dan pesisir pantai di kota Nabire. Hingga pada akhirnya tepatnya tahun 2001 ayah membawa istri dan anak-anaknya kembali ke Jawa setelah mengajukan mutasi kedaerah asal, karena kondisi Papua yang saat itu sudah tidak kondusif lagi karena konflik antar suku. Bahkan beliau masih menjadi seorang guru hingga saat ini di daerah Blitar selatan dan menetap disana.


B.     Masalah Penelitian
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penelitian ini akan difokuskan  mulai dari  sebelum tahun 1985-2001, dengan alasan beberapa tahun sebelum 1985 tersebut ayah telah memulai perjalanan sebagai seorang guru muda yang kemudian tepatnya tahun 1985 berangkat menuju Papua menjadi pengajar di sana berjuang bersama beberapa teman pengajar muda dari daerah lain, dalam kurun waktu tersebut tahun 1987 ayah pulang ke Jawa kemudian menikah dan kembali lagi ke Papua pada tahun yg sama untuk melanjutkan pengabdian sebagai seorang guru. Hingga pada tahun 2001 ayah memutuskan untuk meminta mutasi ke jawa karena faktor keamanaan dan kondisi Papua yg tidak kondusif. 
Adapun yang menjadi bahasan adalah mengenai perjuangan beliau sebelum dan sesudah menikah saat menjadi guru di daerah Papua. Agar pembahsan ini lebih terarah dan terencana, maka dirasa perlu dirumuskan permasalahan-permasalahan yang di harapkan mampu membantu menguak persoalan-persoalan diatas sebagai bahan acuan penelitiannya yaitu:
1.      Bagaimana latar belakang kehidupan dan kepribadian Ayah ?
2.      Bagaimana Perjuangan ayah sebelum dan setelah menikah di Papua ?
C.   Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Penelitian terhadap permasalah diatas merupakan rangkaian kegiatan yang bertujuan :
1. Untuk mengetahui latar belakang  kehidupan sosok Ayah
2. Untuk mengetahui perjuangan Ayah menjadi seorang guru, suami dan juga orang tua    bagi anak-anaknya
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah :
1.      Mengetahui latar belakang kehidupan ayah dari kehidupan beliau dan semangat dalam pegabdiannya serta perjuangan beliau menjadi seorang guru suami dan ayah yang diharapkan bisa menjadi contoh untuk dijadikan panutan
2.      .menambah wawasan pengetahuan dan informasi dalam sejarah keluarga yang lebih mendalam yang belum pernah tertulis.
D.    Telaah Pustaka
            Terkai penulisan tentang ayah, yang berupa penulisan dalam bentuk skripsi penulis masih belum menemukan, tetapi berkenaan dalam bentuk novel dan buku, penulis menemukan dua buku

Buku, karya Andrea Hirata denga judul “Ayah” novel ini bercerita tentang ketulusan seorang ayah terhadap anaknya, di kemas dengan cerita yg sederhana. Perbedaannya denga penelitian yg di lakukan adalah, penulis mencoba menggangkat sejarah tentang ayah kemudian memiliki batasan tahun, serta infomasi yang di peroleh melalui wawancara langsung.

Buku, karya Irfan Hamka dengan judu “ Ayah… Kisah Buya Hamka”,  berisi tentang dari sosok Buya Hamka dan mengenalnya lebih dekat lagi sebagai seorang ayah suami dan kepala keluarga. dimana banyak kenangan, pengalaman, dan kisah luar biasa yang mungkin tak akan kita peroleh selain dari orang-orang terdekatnya. Perbedaan dengan penilitian penulis adalah, penulis memiliki batasan tahun, kemudian terkait isi dan tempat dan juga sudut pandang yang berbeda.

E.     Metode penelitian
Penelitian ini termasuk dalam penelitian lapangan (field research) yaitu penelitian yang menyajikan data-data berdasarkan fakta yang di dapati di masyarakat. Jenis penelitian ini adalah jenis penilitian kualitatif, dimana data yang diperoleh berupa senuah pernyataan, sifat, ciri, keadaand dari suatu gejala ke gejala yang lain, atau pernyatan mengenai hubungan-hubungan antar sesautu dengan sesuatu yang lain.[3] Adapu tahapan-tahapan metode yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain sebgai berikut :
1.      Metode pengumpula data
Dalam penelitian ini,penulis akan mengumpulkan data dengan wawancara, obrservasi, dan dokumentasi. Wawancara yang dilakukan menggunakan dua cara yakni bebas dan terencana. Wawancara bebas adalah wawancara yang dilaksanakan tanpa aturan atau kerangka-kerangka tertentu yang telah dipersiapkan sebelumnya. Wawancara dilakukan dengan cara spontan dengan tanpa disadari oleh informan sehingga hampir sama dengan free talk (pembicaraan biasa).[4]  Wawancara dengan metode ini akan dilakukan kepada Nurkholis (ayah sendiri ) selaku narasumber utama. Kemudian adapun wawancara terencana merupakan wawancara yang daftar pertanyaannya sudah dipersiapkan terlebih dahulu secara lengkap dan cermat. Wawancara ini ditempuh dengan cara mencari informasi langsung terhadap keluarga. Proses pengumpulan data dalam penulisan ini juga dilakukan dengan menggunakan sumber tertulis yang berupa dokumentasi. Penulisan ini didasarkan pada sebuah teknik penyelidikan yang ditujukan kepada penguraian dan penjelasan terhadap apa yang telah lalu melalui sumber dokumentasi.[5]
2.      Pengolahan data dan analisis data.
Proses mengelola data yang sudah di kumpulkan, kemudian dipilah secara sistematis, agar mudah  di pahami dan di baca saatmenganalisis data-data ini. Penulis berusaha menyajikan data yang sudah di peroleh dari hasil penelitian lalu menarik kesimpulan dari penelitian yg sudah dilakukan.
F.     Identitas narasumber
Narasumber utama
-          Nurkholis selaku ayah yang merupaka tokoh yang utama dalam penelitian ini.
Narasumber sekunder
-          Siti musyarofah selaku istri dari ayah yg mneyertai semua kegiatan ayah selama ini
-          Nurul Jannah selaku anak pertama yang lebih banyak mengeteahui bagaimana ayah di bandingkan dengan suadara lainnya




G.    Daftar pustaka
Dudung Abdurahman, Metode Penelitian Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2003
Musa, Diktat Cara Menyusun Proposal Penelitian Sejarah.  Yogyakarta: 2017
Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik  Bandung Tarsito, 1985



[1] Perbincangan dengan ibuk  Siti Musyarofah saaat saya masih Mts kurang lebih tahun 2012 tentang saudara ayah.
[2] Wawancara dengan mbak Nurul Jannah F.R
[3] Musa, diktat cara menyusun proposal penelitian sejarah.  (Yogyakarta: 2017)
[4] Dudung Abdurahman, Metode Penelitian (Yogyakarta: Kurnia Kalam Semesta, 2003),hlm. 62.

[5] Winarno Surakhmad, Pengantar Penelitian Ilmiah Dasar Metode Teknik (Bandung: Tarsito, 1985), hlm. 132.

0 Response to "Contoh Proposal Sejarah Lisan"