Contoh Proposal Penelitian Sejarah


Proposal,2.bp.blogspot


A.    Latar Belakang Masalah
Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan dan penyiaran agama Islam, itulah identitas pesantren pada awal perkembangannya. Namun setelah terjadi banyak perubahan dalam masyarakat akibat dari pengaruh perkembangan zaman, pengertian diatas tidak lagi memadai walaupun pada intinya pesantren tetap berada pada fungsi aslinya.[1]
Dewasa ini  pesantren dianggap sebagai institusi sosial yang tidak hanya berbentuk lembaga dengan seperangkat elemen pendukungnya seperti masjid, ruang mengaji, asrama santri, beberapa ustad dan kyai, tetapi pesantren merupakan entitas budaya yang mempunyai implikasi terhadap kehidupan sosial yang melingkupinya. Pesantren dapat diklasifikasi menjadi tiga kategori yaitu pesantren modern, pesantren tradisional, dan semi modern yaitu paduan antara tradisional dan modern.[2]
Menurut ahli sejarah pendiri pondok pesantren pertama di Jawa adalah Syaikh Maulana Malik Ibrahim. Namun ada juga yang berpendapat bahwa Sunan Ampel dan Sunan Gunung Jati sebagai pendiri pondok pesantren pertama di Jawa. Mengenai teka-teki siapa pendiri pesantren pertama kali di Jawa, analisis lembaga Research Islam yang dianggap cermat dan dapat dipegangi sebagai pedoman mengatakan bahwa Maulana Malik Ibrahim sebagai peletak dasar pertama sendi-sendi berdirinya pesantren, sedangkan Sunan Ampel sebagain wali pembina pertama di Jawa. Adapun Gunung Jati mendirikan pesantren sesudah Sunan Ampel.[3]
Dalam proses pengajarannya, pesantren memiliki metodologi yang khas. Beberapa metodologi pengajaran pesantren meliputi: hafalan (tahfizh), mudzakaroh (pertemuan ilmiah untuk membahas masalah diniyah, seperti ibadah, aqidah, dan permasalahan-permasalahan agama lainnya), fathul kutub (kegiatan latihan membaca kitab),muqoronah (kegiatan perbandingan baik perbandingan materi, paham, metode, maupun perbandingan kitab),muhawarah atau muhadatsah (latihan bercakap-cakapan menggunakan bahasa Arab), dan hiwar atau musyawarah. Tujuan pesantren sendiri adalah menciptakan dan mengembangkan kepribadian Muslim, yaitu keperibadian yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan, berakhlak mulia, bermanfaat bagi masyarakat dengan jalan menjadi kawula atau abdi masyarakat, mampu berdiri sendiri, bebas, dan teguh dalam kepribadian, menyebarkan agama atau menegakkan Islam dan kejayaan umat di tengah-tengah masyarakat, dan mencintai ilmu dalam rangka mengembangkan kepribadian manusia. Hal tersebut juga merupakan peran pesantren secara umum.[4]
Memasuki era globalisasi pada saat ini, pesantren keberadaannya memberikan pengaruh dan warna keberagaman dalam kehidupan masyarakat baik di wilayah administrasi pedesaan maupun daerah kabupaten dimana pesantren itu berada. Oleh karena itu pesantren dijadikan sebagai agen perubahan (agent of change), sehingga diharapkan dapat berperan sebagai dinamisator dan katalisator pemberdayaan sumber daya manusia.[5]
Pesantren melakukan sejumlah akomodasi guna menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Sistem pendidikannya mulai dibuka sistem penjenjangan dengan kurikulum yang lebih luas sehingga sistem pendidikannya mencakup membaharuan isi pendidikan dengan memasukkan subjek umum. Bahkan pesantren dahulu hanya dipimpin oleh seorang kyai yang merupakan pendiri atau memiliki hubungan geneologis dengan pendiri kini tidak lagi harus demikian, dikarenakan adanya diversifikasi pendidikan yang mencakup madrasah dan sekolah umum. Banyak pesantren kemudian mengembangkan lembaga yayasan yang pada dasarnya merupakan kepemimpinan kolektif, seperti Yayasan Pondok Pesantren Al-Islah Terpadu, Ketandan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.[6]
Pondok pesantren Al-Islah merupakan salah satu pesantren yang berada di Yogyakarta. Berbeda dengan pesantren pada umumnya yang dibentuk oleh seorang ulama’, pesantren Al-Islah berdiri atas prakarsa Andri Efriadi, S.Hum beserta temannya Muhammad Rifa’i M.Hum. Keduanya bukanlah seorang ulama’ maupun kyai, bahkan mengenai latar belakang pendidikan yang diperolehnya pun tidak ada sangkut pautnya dengan pendidikan di  pesantren. Pak Andri merupakan seorang sarjana lulusanUIN Sunan Kalijaga Jurusan Bimbingan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi di yang pada saat itu ia menjabat sebagai guru honorer di MAN 4 Bantul. Pak Rifa’i merupakan sarjana lulusan UIN Sunan Kalijaga Jurusan Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Ilmu Budaya yang kemudian ia melanjutkan studi Pasca Sarjana di UIN Sunan Kalijaga dan memperoleh gelar Magister pada tahun 2013.
Tujuan berdirinya pesantren Al-Islah juga bukan seperti pesantren pada umumnya. Berdirinya pesantren Al-Islah karena salah satu pendiri pesantren Al-Islah, Pak Andri mengetahui berita tentang terlantarnya belasan anak yatim di daerah Ketandan, Banguntapan, Bantul. Sesuai dengan firman Allah dalam terjemahan Al-Qur’an surat An-Nisaa’ ayat 6 tentang perlakuan yang baik dan patut terhadap anak yatim, yang berbunyi:
Dan udjilah anak jatim itu sampai mereka tjukup umur untuk kawin. Kemudian djika menurut pendapatmu mereka telah tjerdas (anda memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanja. Djan djanganlah kamu makan harta anak jatim lebih dari batas kepatutan dan (djanganlah kamu) tergesa-gesa (membelan djakan) sebelum mereka dewasa. Barangsiapa (diantara memelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak jatim itu) dan barangsiapa jang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut jang patut. Kemudian apabila kamu mendjerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penjerahan itu) bagi mereka. Dan tjukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).[7]

Pak Andri dan temannya Pak Rifa’i memutuskan untuk mencarikan tempat tinggal bagi belasan anak yatim tersebut. Dari situlah cikal bakal berdirinya Yayasan Pondok Pesantren Al-Islah Terpadu, Ketandan, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta.
Seperti pesantren di Indonesia pada umunya, pesantren Al-Islah minim akan fasilitas yang ada pada awal berdirinya, sehingga santri (anak yatim piatu) hidupserba seadanya pada saat itu. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-sehari belasan santri tersebut, Pak Andri dan Pak Rifa’i membentuk yayasan panti asuhan agar memperoleh berbagai macam bentuk donasi dari para dermawan yang ikhlas menyumbangkan sebagian hartanya untuk kebutuhan santri-santri (anak yatim piatu). Sedangkan pendidikanformal yang didapatkan santri pesantren Al-Islah, mereka perolehdi MAN 4 Bantul.
Meskipun terbatasnya fasilitas pendidikan yang ada di pesantren Al-Islah pada awal berdirinya, pendidikan agama atau diniyah yang menjadi ciri utama dari sebuah pesantren tetap dilaksanakan. Kemajuan-kemajuan pun juga mulai terlihat ketika pesantren Al-Islah secara konsisten menerapkan program pendidikan agama atau diniyah dalam beberapa tahun setelah berdirinya pesantren. Bertambahnya jumlah santri sertamendapatkan tanah waqaf seluas 2.000 m2 di Ketandan, Banguntapan, Yogyakarta merupakan hasil dari kesabaran dan kerja keras pendiri pesantren dan para santri yang tekun belajar agama. Selain terus memajukan yayasan yatim piatu, pesantren Al-Islah juga berhasil membentuk Madrasah Aliyah yang dikemudian diberi nama Madrasah Aliyah Mafaza yang bertempat di tanah waqaf seluas 2.000 m2 tersebut.
Dengan melihat uraian diatas, terdapat berbagai hal yang menurut peneliti menarik untuk perlu dibahas. Selain mengenai sejarah pesantren Al-Islah, masih terdapat beberapa nilai-nilai penting yang perlu dijelaskan untuk mengetahui bermacam-macam proses dan kejadian yang terjadidi pesantren Al-Islah.
B.     Batasan dan Rumusan Masalah
Pesantren Al-Islah didirikan oleh Andre Efriadi, S.Hum. dan Muhammad Rifa’i M.Hum pada tahun 2011. Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan penelitiannya pada sejarah Pesantren Al-Islah, Ketandan, Banguntapan, Bantul tahun 2011-2017. Batasan waktu yang digunakan pada penelitian ini dimulai pada tahun awal berdirinya Pondok Pesantren Al-Islah yaitu pada tahun 2011. Adapun batasan akhir dari penelitian ini ditetapkan pada tahun 2017 karena peneliti masih bisa terus mengambil informasi terkait perkembangan Pondok Pesantren Al-Islah.
Agar pembahasan dalam penelitian ini tidak mengalami pelebaran dan tetap fokus pada pokok kajian, maka dalam penelitian ini dimunculkan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimna prosesawal berdirinya Pesantren Al-Islah?
2.      Bagaimana proses perkembangan dan perubahan yang terjadi di Pesantren Al-Islah?



C.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah yang sudah dikemukakan oleh peneliti, maka penelitian ini memiliki tujuan dan kegunaan yang ingin diperoleh. Tujuannya antara lain:
1.      Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang melatarbelakangi berdirinya Pesantren Al-Islah.
2.      Untuk menjelaskan proses-proses perkembangan serta perubahan yang ada di Pesantren Al-Islah.
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.      Sebagai sumbangan pengetahuan intelektual Islam mengenai macam-macam pesantren yang ada di Indonesia.
2.      Sebagai salah satu solusi untuk melihat perubahan-perubahan yang ada dalam suatu instansi pendidikan.
3.      Memberikan pengetahuan kepada para pembaca mengenai sejarah Pesantren Al-Islah.
D.    Tinjauan Pustaka
Penelitian tentang pesantren bukanlah suatu hal yang baru, bahkan merupakan sebuah kajian yang sudah ada sejak masa awal kemerdekaan. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya karya ilmiah yang membahas tentang pesantren terutama mengenai sejarah dan perkembanganya. Namun peneliti belum menemukan sebuah karya yang secara khusus membahas tentang pondok pesantren Al-Islah. Dengan demikian peneliti menggunakan beberapa skripsi yang sejenis untuk mendapatkan informasi tentang pondok pesantren.
Skripsi yang ditulis olehe saudara Muhammad Asrofi yang berjudul Peran Pondok Pesantren Fadlun Minalloh Dalam Menanamkan Pendidikan Karakter Santri Di Wonokromo Pleret Bantul” mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Jurusan Pendidikan Guru Madrasah IbtidaiyahFakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Skripsi yang ditulis oleh Muhammad Asrofi ini menjelaskan tentang kegiatan-kegiatan pendidikan yang berada di pondok pesantren Fadlun Minalloh dan proses pembentukan karakter disetiap santri. Melihat tema kajian yang ditulis oleh peneliti maka persamaan yang muncul adalah pembentukan karakter kepada setiap santri. Sedangkan perbedaannya adalah pembahasan yang ditulis oleh peneliti mmfokuskan kepada perkembangan pesantren, sedangkan skripsi ini hanya membahas tentang program-program yang ada di pesantren. 
 
Skripsi yang ditulis oleh saudara Jus Amma dengan judul “Pemberdayaan Anak Yatim dan Dhuafa Berbasis Tabungan Akhirat di Pondok Pesantren Daaru Aytam Baitussalam Pendowoharjo Sewon Bantul Yogyakarta” mahasiswa UIN Sunan Kalijaga, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi. Dalam skripsi ini menjelaskan tentang salah satu program unggulan yang berada di pondok pesantren Daaru Aytam Baitussalam yaitu program pemberdayaan zakat yang bertujuan untuk membantu anak-anak yatim dan dhuafa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Persamaan dari skripsi ini dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah menolong anak yatim dan dhuafa untuk bertahan hidup serta mententramkan nasib mereka. Adapun perbedaannya terletak pada pembahasan yang didalam skripsi ini menfokuskan penelitiannya pada sebuah program dalam pesantren, sedangkan penelitian yang dilakukan peneliti memfokuskan pembahasannya pada sejarah dan perkembangan pesantren.
E.     Kerangka Berfikir
Pesantren Al-Islah merupakan salah satu dari sekian pesantren yang berada di Yogyakarta. Berbeda dengan kebanyakan pesantren yang ada di Indonesia, pesantren Al-Islah terbentuk dan berkembang berdasarkan keterlibatan anak yatim piatu. Pensejahteraan terhadap anak yatim piatu dan kaum dhuafa merupakan misi utama yang dijunjung oleh pondok pesantren Al-Islah. Kemajuan yang diperoleh oleh pesantren Al-Islah merupakan sebuah proses atas perlakuan istimewa yang diberiakn kepada anak yatim piatu pada masa yang serba terbatas seperti saat ini.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan sosiologis yaitu pendekatan yang mengkaji tentang hubungan sosial antara individu yang satu dengan individu yang lain atau dengan kelompok. Ilmu sosiologi juga digunakan untuk mengetahui sejauh mana peran dan pengaruh dari suatu institusi terhadap perkembangan komunitas yang mengitarinya.[8]
Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori fungsionalismestruktural yang dikemukakan oleh Robert Merton.Teori fungsionalisme struktural yang dicetuskan oleh Robert Merton ini menekankan kepada keteraturan serta mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan yang ada dalam masyarakat. Masyarakat merupakan suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada satu bagian akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain.[9]
Teori fungsionalisme struktural digunakan oleh peneliti guna menjelaskan hubungan timbal balik yang dilakukan oleh pesantren Al-Islah sebagai salah satu institusi pendidikan bercorak Islam yang berada di suatu masyarakat kepada anak yatim piatu dan kaum dhuafa.
F.     Metode Penelitian
Metode merupakan sebuah cara prosedural untuk berbuat dan mengerjakan sesuatu dalam sebuah sistem yang teratur dan terencana.[10] Sesuai dengan pokok kajian, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah. Metode dalam studi sejarah merupakan seperangkat aturan dan prinsip sistematis dalm mengumpulkan sumber-sumber sejarah secara sistematis.[11]
Terdapat empat persyaratan dalam metode sejarah, yaitu pengumpulan sumber (Heuristik), kritik sumber (Verifikasi), analisis (Interpretasi) dan penulisan sejarah (Historiografi).[12]

1.      Heuristik
Berasal dari bahasa Yunani heuristiken yang berarti menemukan atau mengumpulkan, heuristik mempunyai maksud mengumpulkan sumber sejarah yang tersebar berupa catatan, kesaksian, dan fakta-fakta lain yang dapat memberikan penggambaran tentang sebuah peristiwa yang menyangkut kehidupan manusia.[13] Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data-data tertulis yang berkaitan dengan pokok kajian seperti skripsi yang berkaitan, jurnal dan foto-foto.
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara guna melengkapi sumber-sumber sekunder yang sudah diperoleh. Wawancara dilakukan oleh peneliti kepada pelaku sejarah dan sekaligus kepala Madrasah Aliyah di Pondok Pesantren Al-Islah yaitu bapak Muhammad Rifa’i, M.Hum. Metode yang digunakan dalam wawancara ini adalah metode terstruktur yaitu peneliti mempersiapkan terlebih dahulu bahan-bahan pertanyaan berupa daftar yang disusun secara sistematis dan terarah sesuai dengan permasalahan yang akan dicari.[14]
2.      Verifikasi
Verifikasi adalah langkah untuk menyeleksi terhadap data yang terkumpul dengan tujuan untuk menguji keabsahan sumber-sumber tersebut. Untuk mengujinya, maka harus dilakukan kritik sumber yang meliputi kritik intern dan kritik ekstern.[15] Kritik intern adalah penyeleksian informasi yang terkandung dalam sumber sehingga dapat dipercaya atau tidak, sedangkan kritik ekstern adalah penentuan keaslian suatu sumber berkaitan dengan bahan yang digunakan dari sumber tersebut.[16]
Pada penggunaan sumber lisan, verifikasi digunakan untuk menyeleksi setiap data-data sejarah yang diberikan oleh informan, sehingga kevaliditasan dan kereliabilitasannya sesuai dengan fakta-fakta sejarah yang sesungguhnya.[17] Belum ditemukannya sumber yang berbentuk karya ilmiah menyebabkan peneliti hanya mengkritik sumber yang berbentuk lisan yaitu wawancara dengan salah satu pelaku sejarah yang ada di Pesantren Al-Islah. 
3.      Interpretasi
Interpretasi lebih dikenal sebagai penafsiran sejarah. Pada tahapan ini dituntut kecermatan dan sikap objektif dari seorang sejarawan, terutama dalam hal interpretasi subjektif terhadap fakta sejarah. Hal tersebut bertujuan untuk mengetahui watak-watak atau kondisi umum yang sebenarnya agar ditemukan kesimpulan atau gambaran sejarah yang ilmiah.[18] Pada penelitian ini, peneliti mencoba untuk menafsirkan informasi yang diperoleh dari hasil wawancara yang dilakukan kepada salah satu pelaku sejarah sekaligus pendiri Pesantren Al-Islah guna mengetahui sebab dan tujuan didirikannya Pesantern Al-Islah.
4.      Historiografi
Historiografi atau penulisan sejarah adalh puncak dalam metode penelitian sejarah. Pada fase ini sejarawan mencoba menangkap dan memahami sejarah sebagaimana yang telah terjadi. Historiografi tidak hanya sebatas menjawab pertanyaan-pertanyaan elementer atas peristiwa yang tejadi, tetapi juga eksplanasi secara kritis dan mendalam tentang sebab-musabab terjadinya suatu peristiwa. Alhasil, karya historiografi tersebut adalah sejarah kritis dan utuh mengenai objek studinya.[19]
G.    Sistematika Pembahasan
Agar pembahasan ini mudah dipahami dan sistematis, maka penulisan dalam penelitian ini dibagi menjadi lima bab. Bab I merupakan pendahuluan yang menyajikan latar belakang masalah, batasan dan rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjaun pustaka, kerangka berfikir, metode penelitian, dan sistematika pembahasan. Uraian ini merupakan dasar atau landasan pemikiran untuk bab-bab selanjutnya.
Bab II mendiskripsikan tentang gambaran umum masyarakat Desa Ketandan. Dalam bab ini akan menjelaskan tentang letak geografis Desa Ketandan dan  aspek-aspek yang mendukungnya, seperti keagaaman, pendidikan, ekonomi dan sosial.
Bab III menjelaskan tentang masa awal berdirinya pondok pesantren Al-Islah yang akan mencangkup biografi singkat tentang pendiri pondok pesantren, sejarah berdirinya pondok pesantren, visi misi serta tujuan pondok pesantren, dan keadaan santri yatim dan dhuafa yang menetap di pondok pesantren.
Bab IV membahas tentang perkembangan pondok pesantren Al-Islah mulai dari awal berdirinya hingga batasan waktu yang digunakan peneliti. Dalam bab ini akan menyajikan tentang kontribusi pondok pesantren, program-program yang ada di pondok pesantren, struktur organisasi dan susunan pengurus, dan prestasi atau pencapaian yang diperoleh pondok pesantren dalam suatu bidang tertentu.
Bab V merupakan penutup. Pada bab ini berisikan kesimpulan dari semua pembahasan dan jawaban dari keseluruhan masalah yang sudah dirumuskan dalam rumusan masalah pada Bab I. Selain kesimpulan terdapat saran dan kata penutup agar menjadi bahan pertimbangan serta perbaikan penelitian selanjutnya.






DAFTAR PUSTAKA

Abd Rahman Hamid dan Muhammad Saleh Madjid.Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015.

A.    Daliman.Metode Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Ombak, 2012.
A. Malik M. Thaha Tuanaya, dkk.Modernisasi Pesantren. Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, 2007.

Dawam Raharja.Pergulatan Dunia Pesantren. Jakarta: P3m Media Pratama, 1985.

Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quraan dan Terdjemahnja. Jakarta: Yayasan Penyelenggara  Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an, 1965.

Dudung Abdurrahman.Pengantar Penelitian Sejarah. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999.

George Ritzer dan Douglas J. Goodman.Teori Sosiologi Modern, Edisi Keenam. Jakarta: Prenada Media, 2003.

Hamdan Farchan Syarifuddin.Titik Tengkar Pesantren. Yogyakarta: Pilar Religia, 2005.

Kuntowijoyo. Pengatar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2007.
M. Dien Madjid dan Johan Wahyudhi.Ilmu Sejarah: Sebuah Pengantar. Jakarta: Kencana, 2014.

Mujamil Qomar.Pesantren: Dari Tranformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi. Jakarta: Erlangga, 2005.

Sartono Kartodirdjo.Pendekatan Ilmu Sosiologi dalam Metodologi Sejarah. Jakarta: Gramedia, 1993.

Wawancara dengan  Muhammad Rifa’i di Pondok Pesantren Al-Islah, tanggal 30 Maret 2017.



DAFTAR ISI SEMENTARA
ABSTRAK..............................................................................................................................
KATA PENGANTAR..........................................................................................................
DAFTAR ISI..........................................................................................................................
DAFTAR GAMBAR.............................................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................................................
BAB I: PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang Masalah...............................................................................................
B.       Batasan dan Rumusan Masalah....................................................................................
C.       Tujuan dan Kegunaan Penelitian..................................................................................
D.       Tinjauan Pustaka..........................................................................................................
E.        Kerangka Berfikir.........................................................................................................
F.        Metode Penelitian........................................................................................................
G.       Sistematika Pembahasan..............................................................................................
BAB II: GAMBARAN UMUM MASYARAKAT DESA KETANDAN
A.       Kondisi Geografis dan Demografis.............................................................................
B.       Kondisi Keagamaan.....................................................................................................
C.       Kondisi Pendidikan......................................................................................................
D.       Kondisi Sosial dan Ekonomi........................................................................................
BAB III: MASA AWAL BERDIRI PONDOK PESANTREN AL-ISLAH
A.      Biografi pendiri pondok pesantren...............................................................................
B.       Sejarah berdirinya.........................................................................................................
C.       Visi, misi dan tujuan pondok pesantren Al-Islah.........................................................
D.      Keadaan santri yatim dan dhuafa.................................................................................
BAB IV: PERKEMBANGAN PONDOK PESANTREN AL-ISLAH PADA TAHUN 2011-2017
A.       Kontribusi pondok pesantren Al-Islah.........................................................................
B.       Program-program pondok pesantren Al-Islah..............................................................
C.       Struktur organisasi dan susunan pengurus...................................................................
D.       Prestasi atau pencapain yang diperoleh........................................................................
BAB V: PENUTUP
A.      Kesimpulan...................................................................................................................
B.       Saran.............................................................................................................................
C.       Kata penutup................................................................................................................




[1]Dawam Raharja, Pergulatan Dunia Pesantren(Jakarta: P3m Media Pratama, 1985), hlm. Vii.

[2]Hamdan Farchan Syarifuddin, Titik Tengkar Pesantren(Yogyakarta: Pilar Religia, 2005), hlm. 1.
[3]Mujamil Qomar, Pesantren: Dari Tranformasi Metodologi Menuju Demokratisasi Institusi (Jakarta: Erlangga, 2005), hlm. 7-9.

[4]Ibid., hlm. 3-4.
[5]Ibid, hlm. 193.

[6]A. Malik M. Thaha Tuanaya, dkk, Modernisasi Pesantren (Jakarta: Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta, 2007), hlm. 41.
[7]Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Quraan dan Terdjemahnja (Jakarta: Yayasan Penyelenggara  Penterjemah/Penafsir Al-Qur’an, 1965), hlm. 115-116.
[8]Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosiologi dalam Metodologi Sejarah (Jakarta: Gramedia, 1993), hlm. 4.

[9]George Ritzer dan Douglas J. Goodman, Teori Sosiologi Modern, Edisi Keenam (Jakarta: Prenada Media, 2003), hlm. 141
[10]M. Dien Madjid dan Johan Wahyudhi, Ilmu Sejarah: Sebuah Pengantar (Jakarta: Kencana, 2014), hlm. 217.

[11]Abd Rahman Hamid dan Muhammad Saleh Madjid, Pengantar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2015), hlm. 42.

[12]Kuntowijoyo,Pengatar Ilmu Sejarah (Yogyakarta: Bentang Pustaka, 2007), hlm. 89.

[13]M. Dien Madjid, Ilmu Sejarah, hlm. 219.

[14]Dudung Abdurrahman, Pengantar Penelitian Sejarah (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1999), hlm. 58.

[15]Kuntowijoyo,Pengantar Ilmu Sejarah, hlm. 76.

[16]Abd Rahman Hamid, Pengantar Ilmu Sejarah, hlm. 47.

[17]A. Daliman, Metode Penelitian Sejarah (Yogyakarta: Ombak, 2012), hlm. 66.

[18]Abd Rahman Hamid,Pengantar Ilmu Sejarah, hlm. 50.

[19]Ibid, hlm. 52-53.

0 Response to "Contoh Proposal Penelitian Sejarah"