Peradan Kekaisaran Bangsa Assyria | Peradaban di Bumi Persia

Peningalan Bangsa Assyria, Sumber:1.bp.blogspot.com
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Assiria negeri yang pada zaman dahulu menempati daerah di ujung utara Dataran Mesopotamia atau bagian paling utara daerah yang sekarang dikenal sebagai negeri Irak. Bangsa Assyria merupakan salah satu adikuasa yang turut menyumbangkan sejarah peradaban di Mesopotamia. Takluknya Babilonia Lama di tangan Bangsa Assyria menjadikan Assiria sebagai penguasa Mesopotamia. Kerajaan yang bercorak militeristik ini sangatlah tangguh dan senang dalam berperang.
Banyak kemajuan-kemajuan yang diperoleh setelah meruntuhkan Babilonia Lama. Kemajuan yang sangat mengentarai ialah dalam pembangunan. Assiria membangun perpustakaan yang dilengkapi lembaran-lembaran lempeng tanah liat yang berisikan huruf paku. Tak hanya itu, Assiria mampu membangun istana-istana yang sangat megah, dan menghiasi tembok-temboknya dengan lempeng-lempeng batu berukir gambar-gambar yang sangat hidup tentang peperangan dan perdamaian. Sungguh mengagumkan, bagaimana bisa Assiria hebat dalam hal tersebut. Tak hanya itu, masih banyak lagi  tentang keberhasilan yang telah Assiria capai dalam sumbangsihnya terhadap peradaban wilayah tersebut.
Oleh sebab itu untuk lebih memahami dan mendalami tentang peradaban tersebut, penulis hendak membahas tentang sejarah perjalanan pendirian, kejayaan hingga runtuhnya Kerajaan tersebut dalam sebuah makalah.


B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana letak dan asal-usul Bangsa Assiria?
2.      Bagaimana puncak kejayaan Kerajaan Assiria?
3.      Bagaimana keruntuhan Kerajaan Assiria?

C.    Tujuan
1.      Mengetahui lebih jelas tentang letak dan asal-usul Bangsa Assiria.
2.      Mengetahui lebih jelas tentang puncak kejayaan Kerajaan Assiria.
3.      Mengetahui lebih jelas tentang keruntuhan Kerajaan Assiria.




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Asal-Usul Bangsa Assiria
Pada kira-kira tahun 3000 S.M. di daerah pegunungan sebelah Timur Mesopotamia terdapat pula suku-suku Assiria. Kebudayaan mereka itu diambilnya dari bangsa Sumeria.[1] Pada dasarnya, Assiria terletak di daerah segitiga yang terbentuk oleh sungai Tigris dan sungai Zab Kecil. Kedua sungai itu secara umum menjadi batasnya di sebelah barat dan sebelah selatan, sedangkan gunung-gunung di Armenia kuno menjadi batas utara, dan pegunungan Zagros dan negeri Media menjadi batas timur. Akan tetapi, patut diperhatikan bahwa batas-batas ini sering berubah, karena pada waktu Babilon menjadi lemah, wilayah Assiria meluas sampai ke daerah selatan sungai Zab Kecil, tetapi menyusut pada waktu situasi politik Assiria merosot dan Babilon berjaya. Perubahan demikian juga terjadi pada batas-batas lainnya dan khususnya sungai Tigris, karena sejak awal Assiria telah memperluas pengaruhnya ke arah barat sungai tersebut. Pada relief-relief, mereka digambarkan tegap, berkulit gelap, dengan alis dan jenggot yang lebat, serta hidung yang besar.
Kota Assyur, yang terletak di sebelah barat sungai Tigris, dianggap sebagai ibu kota semula kawasan tersebut. Akan tetapi, setelah itu Niniweh menjadi ibu kotanya yang paling terkemuka, meskipun Kala dan Khorsabad kadang-kadang digunakan oleh para penguasa Asiria sebagai ibu kota. Salah satu rute perdagangan menuju Laut Tengah dan Asia Kecil terentang di bagian utara Asiria, dan rute-rute lainnya bercabang memasuki Armenia dan wilayah dataran Urmia. Assiria melancarkan banyak peperangan untuk memperoleh atau mempertahankan kendali atas rute-rute perdagangan tersebut. Upaya tersebut baru berhasil sekitar tahun 750 S.M. Raja-raja yang pernah berkuasa di Kerajaan Assiria diantaranya Raja Sargon II, Raja Sennacherib, dan Raja Assurbanipal.[2]
Pada masa Assiria Tua (abad ke-20 hingga ke-15 S.M.), Assur menguasai sebagian besar Mesopotamia Hulu dan sebagian dari Asia Kecil. Pada periode Assiria Pertengahan (abad ke-15 hingga ke-10 S.M.), pengaruhnya memudar, dan digapai kembali melalui berbagai penaklukan. Assiria pada zaman besi awal (911-612 S.M.) Meluas lebih jauh, dan dibawah kepemimpinan Ashurbanipal (668-627 S.M.) selama beberapa dekade menguasai seluruh wilayah Bulan Sabit Subur, hingga akhirnya kalah dengan perluasan kekuasaan neo-Babilonia dan Media.
Selama “Zaman Kegelapan” Kuno, Assiria tetap menjadi negara yang kuat dan stabil, tak seperti saingan-sainganya. Dimulai dengan kampanye Adad-Nirari II, Assiria lagi-lagi menjadi kekaisaran yang kuat. Kekaisaran Assiria menjatuhkan Dinasti ke-25 Mesir dan menaklukan Mesir, Babilonia, Elam, Urartu, Media, Persia, Mannea, Gutium, Fenesia/Kanaan, Aramea (Suriah), Arab, Israel, Yudah, Philistia, Edom, Moab, Samarra, Kilikia, Siprus, Khaldea, Nabatea, Kommagene, Dilmun, dan menaklukkan bangsa Hurri, Shutu, dan Het; mengusir bangsa Nubia, Kush, dan Ethiopia dari Mesir; mengalahkan bangsa Kimmeria dan Skythia, serta menarik upeti dari Phryrhia, Magan, dan Punt.[3]
Bangsa Assiria adalah bangsa penganut politeisme. Agama Asiria sebagian besar diwarisi dari Babilon, dan meskipun orang Asiria menganggap Assyur, dewa nasional mereka sendiri, paling unggul, mereka tetap menganggap Babilon sebagai pusat utama keagamaan. Raja Asiria menjadi imam besar bagi Assyur. Salah satu meterai, yang ditemukan oleh A. H. Layard dalam reruntuhan sebuah istana Asiria dan yang sekarang disimpan di British Museum, menggambarkan dewa Assyur dengan tiga kepala. Kepercayaan akan dewa tiga serangkai dan juga dewa lima serangkai menonjol dalam ibadat Asiria. Dewa tiga serangkai yang utama terdiri dari Anu, yang menggambarkan surga; Bel, yang menggambarkan wilayah yang dihuni manusia, binatang, dan burung-burung; dan Ea, yang menggambarkan air di darat dan di bawah permukaan tanah. Dewa tiga serangkai yang kedua terdiri dari Sin, dewa bulan; Syamas, dewa matahari; dan Raman, dewa badai, meskipun kedudukannya sering ditempati oleh Istar, ratu bintang-bintang.

B.     Puncak Kejayaan Assiria
Kekaisaran Assiria Baru adalah sebuah kekaisaran dalam sejarah Mesopotamia yang berdiri pada tahun 934 S.M., dan berakhir pada tahun 609 S.M. Pada periode ini, Assiria mencapai posisi sebagai negara paling kuat di dunia, berhasil melampaui Babilonia, Mesir, Uratu/Armenia, dan Elam dalam hal dominasi atas Timur Dekat, Asia Kecil, Kaukasus, Afrika Utara, dan Mediterania Timur, meskipun baru setelah adanya reformasi oleh Tiglath-Pileser III pada abad ke-8 S.M., Assiria menjadi kekaisaran yang amat besar.[4] Orang-orang Assiria memang terkenal suka berperang, karena itu mereka mempunyai lawan banyak. Bangsa ini hidup sebagai pedagang.[5]
Dalam bidang perekonomian, masyarakat Assiria bertumpu pada bidang pertanian dengan hasilnya antara lain gandum, zaitun, buah anggur, dan sayur mayur. Bangsa Assiria juga mempelajari astrologi yaitu kemahiran meramal nasib dan kejadian-kejadian di dunia dengan mempelajari letak bintang-bintang. Juga astronomi, yaitu ilmu tentang bintang-bintang menjadi maju. Mereka menghitung setahun terdiri dari 365 ¼ hari, mereka juga mempunyai cara menghitung dalam ukuran satuan enam angka.
Bangsa Assiria itu mengambil huruf paku dari kebudayaan Sumeria. Tetapi mereka juga mengusahakan perbaikan-perbaikan; sebaliknya bangsa Assiria juga mewariskan kepandaian membaca abjad kepada bangsa-bangsa kemudian. Orang-orang Assiria mempunyai perpustakaan-perpustakaan, buku-bukunya terdiri dari ubin-ubin tanah liat yang bertuliskan huruf paku[6].
Dalam hal arsitektur bangsa Assiria adalah pula pembangun yang patut dihargai, bangunan-bangunan memang besar seperti terbukti dari keindahan kota Niniveh. Orang Assiria membangun istana-istana yang sangat megah, dan menghiasi tembok-temboknya dengan lempeng-lempeng batu berukir gambar-gambar yang sangat hidup tentang peperangan dan perdamaian. Lembu-lembu yang bersayap dan berkepala manusia, yang dipahat dari sebongkah batu kapur utuh seberat 36 ton, menghiasi gerbang-gerbang. Pada meterai silinder mereka terdapat ukiran yang sangat halus. Dari tuangan logam mereka, terlihat bahwa mereka mempunyai cukup banyak pengetahuan tentang metalurgi. Dari bangunan-bangunan istana mereka sering terlihat bahwa mereka memiliki sistem drainase yang dirancang dengan baik dan sanitasi yang cukup baik.

C.    Runtuhnya Kekaisaran Assyria
Bangsa Assiria memang terkenal keras tabiatnya. Pada relief-relief sering diperlihatkan bagaimana para tawanan digiring dengan tali yang dipasang pada kait-kait yang dicocokkan pada hidung atau bibir, atau bagaimana mata mereka dicungkil dengan ujung tombak. Jadi, penyiksaan yang sadis sering menjadi ciri peperangan Asiria, dan mereka tanpa malu membual tentang hal itu dan mencatatnya dengan teliti. Kekejaman mereka yang dikenal luas ini tidak diragukan memberi mereka keuntungan secara militer, karena menimbulkan perasaan ngeri di hati bangsa-bangsa yang bakal mereka serang sehingga kerap kali tidak memberikan perlawanan.
Bangsa yang mengandalkan pada kekuatan senjata ini akhirnya menemui ajalnya. Kerajaan Assiria semakin lemah. Hal ini diketahui oleh bangsa Chaldea yang berkembang di daerah Mesopotamia Selatan (bekas kekuasaan Kerajaan Babilonia Lama). Bangsa ini menyerang Kerajaan Assiria. Pada tahun 612 S.M. kota Niniveh berhasil dikuasai sehingga mengakibatkan runtuhnya kerajaan Assiria. Setelah berhasil menguasai Meopotamia dari Kerajaan Assiria, bangsa Chaldea yang berada di bawah kepemimpinan Raja Nabopalassar mulai membangun kembali Kerajaan Babilonia baru.[7]














BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Assiria adalah nama negeri yang pada zaman dahulu menempati daerah di ujung utara Dataran Mesopotamia atau bagian paling utara daerah yang sekarang dikenal sebagai negeri Irak. Bangsa Assiria adalah bangsa penganut politeisme. Agama Asiria sebagian besar diwarisi dari Babilon.
Puncak kejayaan Assiria ditandai dengan Kekaisaran Assiria Baru yang berdiri pada tahun 934 S.M. Pada periode ini, Assiria mencapai posisi sebagai negara paling kuat di dunia, berhasil melampaui Babilonia, Mesir, Uratu/Armenia, dan Elam dalam hal dominasi atas Timur Dekat, Asia Kecil, Kaukasus, Afrika Utara, dan Mediterania Timur, meskipun baru setelah adanya reformasi oleh Tiglath-Pileser III pada abad ke-8 S.M., Assiria menjadi kekaisaran yang amat besar.
Perekonomian Assiria ditunjang oleh pertanian, sedang dalam kerajaan adanya pemasukan terhadap upeti yang dibayarkan kerajaan-kerajaan yang tunduk oleh Assiria. Dalam budaya Assiria membangun pustaka dan gedung istana yang sangat bernilai seni tinggi dan sangat mewah.
Bangsa yang memakai militeristik sebagai kekuatan pemerintahan pada akhirnya menemui kelemahanya. Kelemahan ini lah yang membawa petaka bagi kerajaan, pasalnya Chaldea sebagai perintis Babilonia Lama melihat betul kelemahan tersebut. Pada akhirnya Nebuchadnezzar sebagai Raja Chaldea merebut Mesopotamia dari Assiria pada tahun 612 S.M.

















DAFTAR PUSTAKA

Kutoyo, Sutrisno dkk. Sejarah Dunia. Jakarta: Wijaya, 1976.
Rizem Aizid. Kitab Sejarah Terlengkap Peradaban-peradaban Besar Dunia. Yogyakarta: Laksana, 2014




[1] Sutrisno, dkk. Sejarah Dunia, (Jakarta: Wijaya, 1976), hlm. 25.
[2] Rizem Aizid, Kitab Sejarah Terlengkap Peradaban-peradaban Besar Dunia, (Yogyakarta: Laksana, 2014), hlm. 65.
[3] Ibid, hlm. 66-68.
[4] Ibid, hlm. 66-67.
[5] Sutrisno, dkk. Sejarah Dunia, (Jakarta: Wijaya, 1976), hlm. 25.
[6] Ibid, hlm. 28.
[7] Rizem Aizid, hlm. 69-70.

0 Response to "Peradan Kekaisaran Bangsa Assyria | Peradaban di Bumi Persia"